Nasib Tragis, TKI Dieksekusi Mati ( Pancung )




KoranHarian.Net, Nasib Tragis, TKI Dieksekusi Mati ( Pancung ) - Muhammad Zaini Misrin (53) seorang TKI yang bekerja sebagai supir dituduh membunuh majikannya Abdullah Bin Imar Muhammad Al Sindy.

Zaini yang berasal dari Madura ditangkap oleh polisi Arab Saudi pihak keamanan dan dieksekusi mati oleh pemerintahan Arab Saudi di Mekah.

Proses peninjauan kembali ( PK ) yang masih diupayakan pihak RI. Pihak pengacara  sudah dua kali mengajukan permohonan PK, akan tetapi hukuman mati hanya bisa dihapuskan oleh ahli waris ( anak korban ), namun anak korban tidak memberikan maaf sampai detik akhir eksekusi.

Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementrian Luar Negeri Indonesia, Muhammad Iqbal memaparkan bukti serta keterangan saksi yang sudah di kuak pihak pengacara dan pemerintah Indonesia sebelum eksekusi dilaksanakan.

Selama menjalani proses hukum selama 4 tahun, Aparat Saudi Petugas polisi Arab Saudi yang mengintrogasi serta penerjemah yang di siapkan untuk mendampingi proses interogasi memberi tekanan kepada Zaini untuk membuat pengakuan pembunuhan itu, Namun Zaini terus terusan membantah tuduhan itu, karena ia tidak melakukannya.

Pada Konfersi Pers dalam kasus eksekusi mati Zaina di Jakarta,
Wahyu Susilo, Direktur Eksekutif Migrant Care mengungkapkan "Siapapun yang menjalani proses peradilan dengan ancaman maksimal ( hukum mati ), Seharusnya mendapatkan akses kekonsuleraan kepada KJRI dan KBRI Riyadh bantuan dari hukum, penerjemah yang imparsial didapatkan sehingga optimal"

Namun dalam proses hukum, Aparat Saudi tidak memberikan Zaini akses untuk memperoleh pendampingan serta bantuan hukum yang optimal, indikasi proses hukum yang dilakukan penegak hukum Arab Saudi sangat tidak netral, tidak imparsial serta tidak ada keadilan.

Setelah bertemu tim konsuler RI, Otoritas Saudi baru memberikan akses ke Pemerintahan Indonesia,
Presiden Jokowi kembali mengirimkan surat kepada Raja Salman, untuk mengupayakan lagi penangguhan vonis hukim mati .

Pintu peradilan nampaknya sudah ditutup, tanpa ada notifikasi kekonsuleran resmi kepada pihak KJRI dan KBRI, vonis hukuman mati tetap dilakukan padahal Kementerian Luar Negeri RI pada Maret 2018 masih aktif mengirimkan bukti, surat dan keterangan saksi saksi- saksi yang dapat meringankan serta menangguhkan vonis hukuman mati itu.

Pihak RI mendapat informasi dari sumber-sumber  tidak resmi,  Zaini sudah di eksekusi menurut hukum di Arab Saudi.

Eksekusi mati di Arab Saudi terhadap negara asing  dapat terus dilakukan tanpa memberi informasi kepada  pihak pemerintah Warga Negara asing yang bersangkutan.
Indonesia serta berbagai organisasi HAM, sudah lama mengomentari kebijakan yang diterapkan itu.

Salah satu keluarga yang terakhir berkomunikasi dengan Zaini sebelum eksekusi adalah Hidir Syahyanto, Ny Naimah (44) yaitu istri dari almarhum Zaini juga bekerja sebagai TKI di Arab sama sekali tidak tahu mengenai eksekusi mati yang yang jatuh ke suaminya.

Mana bisa mereka tetap terus- terusan melakukan ini tanpa memberitahu pemerintah Warga Negara asing yang bersangkutan, ini soal hidup manusia dan nyawa, Apalagi masih ada beberapa WNI yang terancam vonis hukuman mati disana ! " ujar Hariyanto " .  

No comments

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Powered by Blogger.