Cara Ahok biayai Proyek Semanggi Mendapatkan Pujian Dari Jokowi Namun Dibenci Para Koruptor

Cara Ahok biayai Proyek Semanggi Mendapatkan Pujian Dari Jokowi Namun Dibenci Para Koruptor


KoranHarian.Net, Gubernur DKI Jakarta Ahok mendapat pujian dari Presiden Joko Widodo. Pujian itu diberikan Jokowi karena Ahok dan jajarannya dinilai cerdas mencari sumber pendanaan pembangunan Simpang Susun Semanggi alias Semanggi Interchange.

Proyek yang dikerjakan dengan tujuan untuk mengurai kemacetan di Jembatan Semanggi tidak dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI. Ahok memanfatkan Pergub DKI Jakarta, yang memberi syarat kepada sebuah perusahaan swasta untuk membiayai proyek itu sebagai kompensasi kenaikan koefisien luas bangunan (KLB) atas pembangunan konstruksi mereka di Ibu Kota.

“Pembiayaan yang dikeluarkan untuk proyek ini sangat efisien, murah juga. Saya dengar dari Pak Gubernur DKI, nilainya Rp 360 miliar,” kata Jokowi di atas Simpang Susun Semanggi. Proyek Semanggi ini dimulai Agustus tahun lalu, serta ditargetkan tuntas dan dapat digunakan mulai 17 Agustus 2017, bertepatan dengan HUT RI ke-72.

Coba kita pikirkan kasus-kasus korupsi yang pernah terjadi di Indonesia. Lihat saja kasus korupsi E-KTP yang baru saja disidangkan, di mana dana anggaran yang sekitar 6 triliun tapi hampir setengahnya jadi bancakan ramai-ramai. Hampir setengahnya di curi, melibatkan banyak tersangka, dan mirisnya proyeknya carut-marut dan berantakan. Duit sudah dikorupsi, malah proyek pun tidak selesai. Jadi sebenarnya tujuannya untuk rakyat atau untuk kepentingan sendiri?

Banyak sekali kasus korupsi, yang jika dijumlahkan, negara mungkin dirugikan entah berapa puluh atau ratus triliun. Tidak heran DPR dicap sebagai sarangnya koruptor, bahkan hasil survei terbaru menempatkan DPR sebagai lembaga paling korup di Indonesia tahun 2016. DPR lebih identik dengan korupsi dan sudah mendapat imej buruk di negara ini.

Akan tetapi Ahok mematahkan konsep dan budaya yang sudah dibiasakan terjadi di negara ini. Ahok membuat kita mengerti akan kemungkinan membangun tanpa APBD DKI. Yang paling mudah dan jelas terlihat adalah banyaknya ruang terbuka hijau dan ruang publik terpadu ramah anak yang berjumlah seratusan di Jakarta. RPTRA Kalijodo adalah salah satu bukti, dibangun dengan menggunakan dana CSR perusahaan.

Cara Ahok biayai Proyek Semanggi Mendapatkan Pujian Dari Jokowi Namun Dibenci Para Koruptor


Simpang Susun Semanggi kembali memperlihatkan siapa Ahok sebenarnya. Bukankah ini luar biasa? Tanpa perlu pembiayaan APBD, proyek bisa jalan. Kalau Gubernurnya bukan Ahok, saya malah yakin proyek ini akan dibiayai oleh APBD dan silap mata anggaran pun disunat dan ditilep sana-sini. Biayanya 360 miliar, maka bisa jadi anggarannya 500 miliar, dan mungkin saja disunat hingga setengahnya, dan ujung-ujungnya proyek mangkrak, selesai entah sampai kapan atau mungkin asal jadi. Bukankah ini pola yang sudah umum terjadi di negara ini? Tujuan dari penggunaan anggaran nomor sekian, uangnya yang diutamakan dan dijadikan fokus.

Setelah saya pikir-pikir, yang dilakukan Ahok patut diapresiasi, lantas mengapa dia begitu dibenci, dan ditolak di mana-mana? Bukankah dia lebih pantas diberikan penghargaan karena sering menyelamatkan uang negara dari sekumpulan orang yang berniat korupsi? Mungkin ini sebabnya serapan anggaran DKI Jakarta sangat rendah, karena Ahok menggunakan cara lain untuk membangun. Dan ini mengundang kritikan dan nyinyiran.

Jika selama ini anggaran sering dikorupsi, maka serapan anggaran yang rendah dipermasalahkan karena anggaran tidak keluar, berarti peluang korupsi tidak ada. Bagi yang suka korupsi maka ini bukan hal yang menyenangkan. Aho menutup keran jalur korupsi dengan cara menggunakan jalur non-APBD (jika memungkinkan) sehingga ada beberapa yang kalang kabut.

Ini adalah salah satu alasan, menurut saya, Ahok begitu dibenci sekaligus dipuja. Dipuja karena cara kerjanya lain dari yang lain, pintar memanfaatkan anggaran bahkan sering menghemat banyak. Di sisi lain dibenci dan disumpahi karena terlalu pelit sehingga sulit bagi siapa pun untuk korupsi. Dan mirisnya Ahok yang non muslim jauh lebih berbahaya dibandingkan Ahok yang telah menyelamatkan dan menghemat anggaran. Ahok yang non muslim rasanya jauh lebih hina ketimbang mereka yang korupsi. Lucu sekali negara ini, bukan?

Sumber : 

No comments

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Powered by Blogger.